ilustrasi

Era Charger Tanpa Kabel (2)

Mengenal Lebih Dekat Wireless Charging

Teknologi wireless charging sebenarnya sudah digunakan perangkat smartphone pada tahun 2009, yakni Palm Pre. Hanya saja teknologi tersebut tidak diadopsi secara lebih luas.

Secara teknis, teknologi yang digunakan wireless charging serupa dengan yang digunakan pada dinamo pembangkit listrik. Wireless charging menggunakan medan elektromagnetik untuk mentransfer energi antara dua benda. Dilakukan dengan stasiun pengisian, energi dikirim melalui rangkain induktif untuk perangkat listrik yang kemudian dapat menggunakan energi itu guna mengisi baterai atau menjalankan perangkat. Penjelasan singkatnya, pengisi induksi menggunakan kumparan induksi untuk menciptakan medan elektromagnetik dari dalam stasiun pengisian (charger dock), dan kumparan induksi kedua di perangkat portabel (ponsel pintar dan seabgainya) mengambil daya dari medan elektromagnetik lalu mengubahnya menjadi arus listrik untuk mengisi baterai. WirelessDua kumparan induksi yang berdekatan bergabung membentuk sebuah transformator listrik. Jarak optimal antara pengirim dan penerima kumparan dapat dicapai ketika sistem pengisian induktif menggunakan resonant inductive coupling atau induksi elektrodinamik, yaitu sebuah transmisi nirkabel energi listrik antara dua kumparan magnetis yang merupakan bagian dari rangkaian resonan yang disetel untuk beresonansi pada frekuensi yang sama.
Layaknya pengisian baterai standar yang menggunakan alat charger atau powerbank, wireless charging juga membutuhkan media pengisian, yang disebut stasiun pengisian atau charger docking. Bahkan memerlukan arus listrik dari sumber yang sama, bedanya saat proses charging tidak menggunakan kabel lagi, cukup letakkan perangkat di atas stasiun pengisian secara otomatis baterai akan terisi.

Kelebihannya, port charger lebih tahan lama, karena tidak lagi melalui porses pasang dan cabut. Lalu perpindahan energi juga dikalim lebih aman karena tidak mengandung radiasi. Yang pasti tidak perlu lagi sebuah kabel mengganggu kenyamanan dan keelokan pandangan.

Standarisasi
Meski perlahan teknologi wireless charger mulai ramai dibicarakan dan telah diterapkan oleh beberapa perusahan, namun masih ada satu permasalahan penting yang bisa mengganggu perkembangannya. Dimana sejumlah perusahaan yang ambil bagian dalam teknologi ini belum memiliki kesatuan standar untuk wireless charger. Hal ini cukup penting, untuk memastikan ekosistem berjalan lancar.

Seperti diketahui, ada beberapa standar penerapan teknologi wireless charging. Namun untuk saat ini ada dua yang banyak digunakan, yaitu standar Qi dan Powermat dari PMA (Power Matter Alliance). Standar Qi (dibaca chi) dikembangkan oleh Wireless Power Consortium, merupakan standar antarmuka untuk transfer daya listrik induktif dengan jarak hingga 4 cm (1,6 inci). Sistem ini terdiri dari pad transmisi dan penerima yang kompatibel dalam perangkat portabel.

Era Charger Tanpa Kabel (2)

Untuk menggunakannya, perangkat mobile ditempatkan di atas pad transmisi listrik, yang akan terisi melalui resonant inductive coupling atau induksi elektrodinamik. Beberapa produsen perangkat mobile yang bekerja dengan standar ini termasuk Asus, HTC, Huawei, LG Electronics, Motorola Mobility, Nokia, Samsung, BlackBerry, dan Sony. Konsorsium ini bertujuan untuk menciptakan sebuah standar global untuk teknologi pengisian induktif.

Sedangkan standar Powermat dikembangkan Power Matters Alliance (PMA), adalah organisasi non profit yang misinya memajukan suite standar dan protokol untuk transfer daya nirkabel. Ditandai dengan elektron “P”, standar antarmuka PMA menjelaskan perpindahan analog listrik (induktif dan resonansi), komunikasi transceiver digital, manajemen daya berbasis awan dan kelestarian lingkungan.

Keanggotaan PMA terdiri dari perusahaan di seluruh ekosistem perangkat mobile, termasuk penyedia handset, penyedia layanan, pemasok chipset, produsen, laboratorium pengujian dan perusahaan publik. Termasuk perwakilan dari AT & T, Duracell, Starbucks, Powermat Technologies, Flextronics, Federal Communications Commission (FCC), dan Energy Star. Itu artinya stasiun pengisian yang menggunakan standar Qi tidak bisa melakukan pengisian ulang baterai perangkat yang berbasis Powermat. Begitu pula sebaliknya. Jadi untuk saat ini pengguna harus memilih salah satu diantaranya.

Standar Qi telah digunakan sejak lama, dan pengembangnya bertanggung jawab untuk menjaga standar serta telah bekerja keras untuk memastikan ketersediaan banyak aksesoris. Untuk masalah teknis, sebagian besar perangkat Qi memiliki output daya 1 amp pada 5 volt, yang kemungkinan tidak sekuat atau lebih kecil dari standar pengisian yang disertakan pada perangkat. Namun beberapa pabrikan mengklaim mampu menghasilkan tenaga lebih. Jadi ini bukanlah cara tercepat untuk mengisi ulang baterai perangkat portabel, karena kegunaan pengisian standar Qi adalah kemudahan mengatur pengisian perangkat di mana saja. wireSementara dalam standar Powermat menggunakan konsep dasar yang sama, yaitu menempatkan gadget di atas stasiun pengisian untuk memulai charging. Hal terbesar yang membedakan dengan Qi adalah apa yang terjadi di atas pengisian nirkabel. Standar Powermat mencakup kemampuan untuk hal-hal seperti berapa banyak waktu dihabiskan pengguna saat melakukan pengisian. Hal inilah yang membuat Powermat secara signifikan lebih populer di kalangan bisnis. Starbucks, Delta Airlines, dan GM adalah bagian dari daftar yang terus berkembang dari perusahaan yang mendukung standar Powermat. Powermat sebagai standar telah melihat pertumbuhan yang stabil di tempat umum.

Dan perbedaan standar ini sempat menimbulkan banyak keruwetan, misalnya Google yang mendukung teknologi Powermat, namun wireless charger pada Google Nexus 4 menggunakan standar Qi karena diproduksi oleh LG. Hanya saja kabarnya LG sudah menjadi bagian dari PMA. Untuk itulah dibutuhkan kesatuan standarisasi agar ekosistem wireless charging terus berkembang. Apalagi makin hari perkembangan wireless charger pada smartphone mulai diminati.

Meski saat ini banyak perangkat yang memakai standar Qi, namun bila melihat pertumbuhan yang stabil dari Powermat di tempat umum dan perusahaan komersial mungkin mereka lebih populer di masa depan. Namun jika menitikberatkan pada kebutuhan pengguna, sebaiknya makin banyak perusahan yang mendukung kedua standar. Atau malah nanti akan muncul standar lain yang siap mengambil alih.




Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com