4G-LTE-Logo

Special Report 4G (1)

Teknologi 4G di Indonesia

Teknologi 4G semakin ramai dibicarakan di berbagai kesempatan, baik workshop, radio, media online, media sosial dan di tempat-tempat “nongkrong”.

Masyarakat luas mungkin sudah mendengar istilah teknologi 4G, tapi benarkan mereka mengerti tentang apa itu 4G dan segala macam pendukung yang berkaitan dengannya? Oleh karena itu, mari kita sedikit singgung soal teknologi generasi tersebut.

Apa itu Teknologi 4G?
3GPP Long Term Evolution (LTE) adalah standar komunikasi nirkabel berbasis jaringan GMS/EDGE dan UMTS/HSDPA untuk akses data kecepatan tinggi menggunakan ponsel atau perangkat mobile lain.
Teknologi LTE didaulat akan menggantikan UMTS/HSDPA dan diperkirakan menjadi standarisasi telepon selular secara global yang pertama. Kecepatan aksesnya mampu melakukan download sampai dengan 300Mbps dan upload 75Mbps. Layanan LTE pertama kali diadopsi oleh operator seluler TeliaSonera di Stockholm dan Oslo tanggal 14 desember 2009.

Disamping itu, LTE disebut-sebut sebagai jaringan nirkabel tercepat saat ini, sebagai penerus jaringan 3G. Juga diklaim sebagai jaringan nirkabel yang paling cepat pertumbuhannya. Oleh karena itu, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia wajar bila semua orang sedang menunggu akses 4G LTE dan bisa segera mengaksesnya.

Antarmuka Berbeda
Banyak yang bertanya, kenapa pengadopsian teknologi 4G terlihat lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya? Sebenarnya bukan rumit, hanya saja jaringan antarmuka-nya berbeda dengan jaringan 2G dan 3G, sehingga diperlukan lingkungan baru atau instal teknologi tambahan agar bisa digunakan.
Karena 4G LTE menggunakan jaringan all-IP. Sedangkan pada GSM dan UMTS memakai circuit switching. Dengan pengadopsian LTE, operator harus merencanakan ulang jaringan teleponnya. Dalam hal ini muncul tiga pendekatan, yaitu;

1. CSFB (Circuit Switched Fallback). Pendekatan ini LTE hanya menyediakan layanan data dan ketika telepon dilakukan atau diterima maka akan kembali menggunakan circuit switching. Sehingga pengaturan telepon membutuhkan waktu yang lebih lama.
2. SVLTE (Simultaneous Voice and LTE). Pada pendekatan ini ponsel bekerja sebagai LTE dan circuit switching secara bersamaan. Dengan pendekatan ini ponsel cenderung lebih mahal dan konsumsi tenaga lebih tinggi.
3. VoLTE (Voice over LTE). Ini berbasis pada IP multimedia sistem dengan tujuan mendukung akses telepon dan multimedia melalui nirkabel.

Jadi perlu dipahami oleh masyarakat luas yang menerima SMS dari operator untuk beralih ke 4G dengan cara menukar kartu SIM lama di gerai-gerai operator, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Karena perangkat yang digunakan juga harus diganti atau yang telah didukung dengan teknologi 4G.

Dengan lain kata, bukan hanya mengganti kartu SIM untuk bisa menikmati akses data berkecepatan tinggi generasi keempat ini, ponsel pun harus yang mendukung teknologi 4G. Disini yang perlu kita tegaskan kalau perangkatnya juga diperlukan upgrade.

Jadi antara back server, kartu SIM operator dan perangkat yang digunakan seperti ponsel dan modem semuanya harus mendukung teknologi 4G di jaringan 900 Mhz untuk saat ini dan ke depannya 1800 Mhz yang sedang ditata ulang hingga November 2015.

Manfaatnya
Seperti yang disinggung di atas bahwa teknologi 4G LTE menawarkan kecepatan tinggi. Ini sesuai permintaan untuk peningkatan kecepatan akses data dan kualitas layanan serta memastikan berlanjutnya daya saing sistem 3G di masa depan.

Sebab 4G LTE menjadi tahap komunikasi yang lebih tinggi, tidak hanya menghubungkan manusia dengan manusia, tapi menghubungkan manusia dengan mesin. Dengan 4G LTE dapat dimanfaatkan untuk multimedia unicast atau layanan penyiaran multimedia. Jadi streaming bukan lagi kendala ketika infrastruktur dan coverage area 4G sudah merata di berbagai daerah.

Soal Biaya
Tentu setiap peningkatan teknologi akan berbanding lurus dengan biaya yang harus kita bayar. Selain memang biaya yang harus dikeluarkan oleh operator begitu besar untuk melakukan upgrade sistem, juga pola akses data berinternetan berbeda dengan pola sebelumnya. Lebih cepat dan lebih efisien.

Kalau dulu misalnya download lagu 200 MB butuh lebih dari satu menit, dengan 4G LTE bisa dalam hitungan detik. Maka dari sisi waktu semakin efisien dan sangat bermanfaat buat mendukung pekerjaan yang membutuhkan pengiriman data besar dari satu tempat ke tempat lain.

Namun dari sisi biaya, saat ini masih belum ada bisnis modelnya, namun kecepatan data besar yang dapat ditransfer atau di-download begitu cepat,  tentu biaya yang dikeluarkan juga sebanding dengan besaran data yang didapat. Jadi bukan waktu yang menjadi patokan, tapi besaran datanya.
LTE di Indonesia

Saat ini tiga operator seperti XL Axiata, Telkomsel dan Indosat sudah melakukan ujicoba sekaligus mengomersialkan teknologi 4G LTE di beberapa area di frekuensi 800 Mhz. Sementara untuk frekuensi 1800 MHz masih menunggu penataan ulang masing-masing operator, termasuk operator 3.

Sebenarnya, pada 14 November 2013, perusahaan telekomunikasi Internux meluncurkan layanan 4G LTE pertama di Indonesia, yaitu Bolt Super 4G LTE. Bolt menawarkan kecepatan akses data hingga 72 Mbps, lebih cepat dari teknologi EVDO Rev B yang dimiliki Smartfren yang menawarkan kecepatan akses data hingga 14,7 Mbps.
Jadi intinya 4G LTE tinggal menunggu waktu. Jika sesuai rencana tata ulang frekuensi hingga November 2015 ini, minimal akhir tahun sudah banya yang bisa menikmati akses internet cepat di Indonesia. Semoga saja sesuai harapan.




Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com